File Academy

Maslow Pyramid di Fotorgafi

Masih ingat tentang Piramida Maslow yang pernah dipelajari saat duduk di bangku sekolah? Piramida yang menggambarkan kebutuhan manusia dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan yang paling tertinggi adalah aktualisasi diri.

Diadaptasi dari teori tersebut maka lahirlah apa yang saya sebut sebagai Maslow Pyramid in Photography. Di zaman semua orang memiliki akses untuk memotret baik melalui kamera ponsel maupun kamera ‘betulan’ maka begitu mudah seorang disebut sebagai fotografer.

Namun rupanya tingkatan dan kebutuhan pada fotografi atas individu tersebut berbeda-beda. Dimulai dari dasar piramida, saya menyebutnya fotografi untuk happy-happy. Baginya fotografi hanya untuk hobby tanpa tuntutan lain.

 

Naik ke piramida yang lebih atas, fotografi baginya adalah menghasilkan uang, pokoknya cuan! Disini saya menyebutnya fotografi sebagai komoditi. Buat jasa dengan harga terjangkaua atau bahkan murah, duplikat team dan order sebanyak mungkin, maka fotografi menjadi mesin uang.

 

Sebagai contoh di industri wedding fotografi, saya memilik seorang teman yang menjual paket dokumentasi pernikahan di bawah umumnya harga pasar, namun dengan strategi itu dan kemampuan menduplikasi team, setiap bulannya tak kurang dari 100 pekerjaan bisa ia dapatkan.

 

Cukup marak juga sekarang, foto katalog pakaian atau produk lainnya yang dibanderol hanya puluhan ribu saja, sudah termasuk fotografer, model, dan editing. Dalam satu bulan pemotretan memang jumlah produk yang dipotret ribuan. Kalau dikalikan, omzet bulanan bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah juga.

 

Hal ini berbanding terbalik dengan contoh lainnya, seorang fotografer dengan bisnis yang ia bangun mengambil strategi berbeda, hanya menerima satu-dua pekerjaan foto pernikahan namun dengan harga premium. Foto katalog fashion yang dikerjakan secara high-end. Foto potret di segmen tertentu. Mereka berada di tingkat piramida selanjutnya, karya dengan makna. Saya menyebutnya purity. Ada paduan antara teknis dan seni yang mumpuni baik tersirat maupun tersurat.

 

Tingkat berikutnya adalah fotografi baginya telah mengantarkan ke pengakuan & eksistensi. Menjadi individu profesional yang dihormati.

 

Puncak piramid adalah fotografi menjadi spirit hidup. Ini didapat oleh mereka yang telah puluhan tahun menggeluti dunia fotografi.

Related Posts

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.